Blue Azurea
Wednesday, 15 March 2017
Sunday, 13 November 2016
Tekad Berdiri Sendiri
Pernahkah terbayangkan dipikiran anda semua untuk memulai hidup sendiri tanpa orang tua
disaat masih berumur 15 tahun? Mungkin ada sebagian dari anda semua yang merasa
itu hal biasa, namun ada pula yang merasa itu adalah hal yang tidak mungkin.
Mandiri.
Iya, hal itulah yang saat saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama
(SMP) selalu saya pikirkan. Saya selalu bertanya, apakah saya bisa hidup
mandiri? Saya hidup tanpa orang tua saya? Saya harus jauh dari orang tua saya?
Berangkat dan pulang sekolah tanpa orang tua? Apakah saya bisa?
Didasari
dengan berbagai pertanyaan yang selalu datang di pikiran sayalah, akhirnya saya
berani mengambil keputusan untuk belajar hidup mandiri. Saya memiliki untuk
melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMA) di luar kota dan hal inilah yang
mengharuskan saya hidup sendiri.
Memang
sulit awalnya, saya harus keluar dari comfort
zone saya. Tapi, karena hal inilah saya selalu menantang diri saya agar
bisa menghadapi segalanya. Saya menyadari satu hal, kita sebagai manusia tidak
bisa hidup selalu dalam comfort zone saja.
Kita harus selalu mau mencoba suatu hal yang baru. Dengan begitu, kita bisa
menemukan hal-hal baru yang belum kita jumpai sebelumnya.
Mungkin
zaman sekarang, banyak diantara remaja seumuran saya yang masih sangat
bergantung kepada orang tuanya. Tidak, saya tidak berbicaraa tentang masalah
keuangan. Karena saya pun, masih dibiayai oleh orang tua saya hingga saat ini.
Tetapi, saya berbicara tentang rasa manja yang sudah kita miliki sejak kecil.
Banyak saya temui orang – orang seumuran saya yang masih sangat mengandalkan
orang tuanya, tanpa peduli bagaimana kondisi orang tuanya.
Hidup
sendiri, hidup mandiri adalah sebuah tantangan yang harus saya lewati selama 3
tahun di masa remaja saya. Tapi, dengan bangga saya memberi tahukan kepada
orang-orang di luar sana, bahwa saya berhasil hidup mandiri selama 3 tahun.
Mungkin angka 3 terbilang sangat kecil, tapi menerjang segala kendala selama 3
tahun belajar mandiri adalah sebuah hal besar yang pernah saya jalani dalam
hidup ini.
Mengapa kita harus belajar mandiri sejak dini? Karena tidak selamanya orang-orang di sekitar kita akan selalu ada menemani kita sesuai keinginan kita. Seiring berjalannya waktu, akan ada saat dimana kita harus berusaha untuk hidup sendirian.
Monday, 19 September 2016
Vitamin Sea
Saat liburan natal dan tahun baru 2015 kemarin, saya pergi berlibur ke tempat kakak saya di Solo. Saya dan kakak saya hanya pergi berlibur berdua. Awalnya, kami bingung ingin melakukan apa saja. Sehingga, kami merencakan acara jalan - jalan kami saat hari itu juga. Kami pergi ke banyak tempat makan. Memang, awal - awal terlihat biasa saja.
Setelah beberapa hari, kakak saya mengajak saya pergi sebuah pantai yang cukup terpencil dan masih sedikit orang yang mengetahui pantai tersebut. Kakak saya mengajak saya pergi ke pantai tersebut karena kakak saya sangat tahu bahwa saya sangat mencintai pantai. Saya sangat mencintai pantai karena pantai adalah tempat yang paling nyaman dan sepi. Di pantai saya bisa merasakan ketenangan. Kami pergi ke pantai tersebut bersama beberapa teman kakak saya.
Kami pergi ke sebuah pantai di Selatan Jawa Tengah. Pantai ini memang terletak sangat jauh dari kota Jogja. Kami pergi dengan mengendarai mobil. Kami menempuh perjalanan yang cukup lama. Kami berangkat dari Solo sekitar pukul 9 pagi, memang waktu yang terbilang agak siang. Kami tiba di pantai tersebut sekitar pukul 2 siang.
Selama perjalanan ke pantai, saya sangat senang sekali. Ketika sudah mulai dekat dengan daerah pantai saya seperti 'histeris'. Saya sangat bahagia melihat birunya langit yang indah bercampur dengan birunya laut yang membentuk gradasi warna.
Kami bermain di pantai kira - kira selama 3 jam. Banyak hal baru yang saya temui di pantai tersebut, seperti beberapa makhluk hidup yang tidak bisa dijumpai di kota. Sungguh, saya merasa nyaman dan tenang berada di pantai tersebut, apalagi pantai tersebut masih sangat sepi. Keuntungan dari pantai yang masih sangat sepi adalah saya bisa menikmati keindahan alam yang begitu luar biasa. Pantai yang masih bersih, air laut yang masih sangat jernih, sampai - sampai saya bisa melihat terumbu karang, dan saya juga bisa melihat beberapa hewan yang tinggalnya jauh dari jangkauan manusia.
Setelah selesai dari pantai, kami memutuskan untuk pergi ke Jogja terlebih dahulu. Di dalam perjalanan pulang, kakak saya mengatakan dan mengajak saya untuk pergi lagi ke pantai tersebut dan menginap disana semalam. Menginap di pantai bukan berarti menginap di hotel yang langsung melihat ke arah pantai. Namun, benar - benar tidur di atas hamparan pasir dan dapat menyaksikan indahnya langit malam dan dapat melihat benda - benda langit begitu jelas dan dekat.
Friday, 16 September 2016
Movie Review: Train to Busan
Sama seperti kebayakan orang, saya
memiliki hobi menonton. Jika saya memiliki waktu luang, saya menonton atau
kadang – kadang hanya mendengarkan lagu. Kali ini, saya akan memberikan cerita
singkat tentang film yang telah saya tonton. Saya akan menceritakan secara
singkat film yang berjudul Train to Busan dan film ini dengan genre thriller.
Berawal dari seorang gadis kecil
yang bernama Soo-An, yang memiliki ayah bernama Seok-Woo. Soo-An yang tinggal
bersama ayahnya setelah ayah dan ibunya berpisah. Saat hari ulang tahun, Soo-An
diberi sebuah kado oleh sang ayah, yang ternyata kado tersebut telah
diterimanya saat Hari Anak Nasional. Seok-Woo pun kaget saat mengetahui bahwa
ia telah memberikan hadiah yang sama. Akhirnya, sang ayah bertanya kepada Soo-An
apa hadiah yang ingin diterimanya, kemudian Soo-An memberi tahu bahwa ia ingin
pergi ke Busan.
Saat akan mulai perjalanan ke
Busan, ada masalah yang melanda negara Korea, yaitu suatu virus dimana jika ada
makhluk hidup yang terkena virus tersebut akan berubah menjadi zombie. Mereka
pergi ke Busan dengan kereta. Saat kereta akan berangkat, tiba – tiba ada orang
yang dengan cepatnya masuk ke dalam kereta, tanpa diketahui oleh penjaga
keamanan, dan ternyata orang tersebut sudah terjangkit virus zombie tersebut. Saat
di tengah perjalanan, seorang pramugari kereta menemui orang yang terjangkit
virus tersebut di dalam kamar mandi, telah berubah menjadi zombie. Dalam sekejap
suasana kereta pun menjadi tegang, zombie itu berkeliaran di dalam kereta dan
mulai menyerang setiap penumpang yang dilihatnya, dan mualailah menyebar virus tersebut.
Saat suasana panik melanda kereta
tersebut, Soo-An dan Seok-Woo bertemu dengan para penumpang, diantaranya seorang
ibu hamil yang bernama Sung-Gyeong serta suaminya yang bernama Sang-Hwa, atlet
baseball diantaranya Young-Gook dan Jin-Hee dan seorang gelandangan Choi Gwi-Hwa.
Mereka berempat berusaha untuk bertahan hidup dengan mencari cara agar dapat
terhindar dari zombie – zombie.
Singkat cerita, virus yang
tersebar adalah suatu virus yang disebabkan oleh perusahaan milik Seok-Woo yang
bekerja di bidang bioteknologi. Dan ternyata, orang yang bekerja pada Seok-Woo
memberi informasi bahwa Busan lah kota yang masih aman dari serangan para
zombie. Saat dalam perjalanan, suami Sung-Gyeong terkena gigitan zombie saat
sedang berusaha menyelamatkan dirinya dan para rekannya. Sang-Hwa tergigit oleh
zombie saat dirinya sedang menahan pintu agar para zombie tidak dapat
menghamipiri ia dan rekannya. Namun, karena kekuatan para zombie yang begitu
kuat dan yang menahan pintu hanya 2 orang, tergigitlah Sang-Hwa. Ia rela
digigit dan menyuruh Seok-Woo untuk berhenti membantunya menahan pintu dan
menyuruh Seok-Woo untuk lekas pergi ke gerbong kereta yang lain. Pada akhir
cerita, hanya ada dua orang yang bertahan hidup, yaitu Soo-An dan Sung-Gyeong.
Soo-An dan Sung-Gyeong berhasil tiba di Busan.
credits:http://www.nytimes.com/2016/07/22/movies/train-to-busan-review.html
Wednesday, 14 September 2016
ANATOMI DIKOTIL DAN MONOKOTIL PADA JARINGAN TUMBUHAN
I.
DASAR TEORI
Anatomi berasal dari bahasa Yunani anatomia dari anatemnein yang berarti memotong, adalah cabang dari biologi yang berhubungan
dengan struktur dan organisasi dari makhluk hidup.
Perbandingan antara akar dikotil
dan monokotil:
1. Akar
dikotil memiliki akar tunggang dengan akar lateral, sedangkan akar monokotil
memiliki system akar adventif, ketiadaan akar tunggang
2. Akar
monokotil tidak memiliki pertumbuhan sekunder, sedangkar akar dikotil memiliki
dua fase pertumbuhan
3. Akar
monokotil memiliki empulur yang signifikan di tengah, tapi dikotil memiliki
baik empulur sangat kecil dibandingkan empulur monokotil atau tidak memiliki empulur
Perbandingan pada batang dikotil dan
monokotil:
Batang dikotil:
1.
Ikatan pembuluh
tersusun dalam 1 lingkaran
2.
Floem terletak
disebelah luar xylem
3.
Tedapat cambium di
antara floem dan xylem
4.
Mengalami pertumbuhan
sekunder
5.
Jaringan dasar dapat dibedakan
menjadi korteks dan empulur
6.
Tidak terdapat sel –
sel seludang pembuluh
Batang
monokotil:
1.
Ikatan pembuluh
tersebar
2.
Floem dan xylem
bersebelahan
3.
Tidak terdapat cambium
di antara floem dan xylem
4.
Tidak mengalami
pertumbuhan sekunder
5.
Jaringan dasar tidak
dibedakan menjadi korteks dan empulur
6.
Terdapat sel – sel
seludang pembuluh
·
Sel tumbuhan memiliki
organel yang khas dibandingan sel hewan
·
Terdapat berbagai sel
tumbuhan. Misalnya: sel parenkim, sel kolenkim, dan sel skelrenkim
·
Jaringan merupakan sekelompok
sel dengan ciri yang serupa dalam hal bentuk, fungsi, maupun sifat – sifatnya
·
Jaringan tumbuhan
dikelompokkan menjadi dua berdasarkan kemampuan membelahnya, yaitu jaringan
meristem dan jaringan permanen
II.
TUJUAN
·
Memahami struktur dan
fungsi jaringan pada daun
·
Melihat dan mengetahui
struktur akar dan batang tumbuhan dikotil dan monokotil
·
Mengidentifikasi
perbedaan anatomi akar dan anatomi danu pada tumbuhan monokotil dan dikotil
III.
ALAT & BAHAN
Alat:
1. Mikroskop
dengan perbesaran 10 x 10
2. Silet
3. Preparat
kaca
4. Pipet
tetes
5. Pyrex
6. Lap
Bahan:
1. Rumput
serta akar
2. Satu
batang bayam serta akar
3. Kentang
1 buah
4. Tissue
5. Air
6. Cairan
safranin
7. Alkohol
IV.
CARA KERJA
Cara kerja pengamatan pada sel daun
rumput dan bayam
1. Bersihkan
mikroskop dengan alcohol dan tissue
2. Ambil
sekecil mungkin bagian dari rumput dengan silet
3. Letakkan
irisan rumput di atas pyrex, kemudian teteskan dengan safranin
4. Tunggu
sekitar 15 menit
5. Ambil
irisan sel
6. Kemudian
letakkan pada mikroskop dan jepit dengan penjepit
7. Lihat
sel dari rumput melalui lensa pada mikroskop,
8. Lakukan
hal yang sama pada daun bayam, akar rumput dan akar bayam
9. Untuk
bayam, untuk mengambil sel pada daun bayam, letakkan satu helai daun bayam
kedalam kentang.
Dengan cara: belah kentang,
kemudian bagi dua pada sisi dalam kentang. Letakkan daun bayam pada sisi
kentang yang sudah terbelah. Lalu, iris daun bayam setipis mungkin
V.
DATA PENGAMATAN
VI.
ANALISA DATA
Mendapatkan perbedaan akar seerta
batang tumbuhan dikotil dan monokotil. Pada batang dikotil, letak floem dan
xilemnya teratur membentuk lingkaran dengan xylem di bagian dalam dan floem di
luar. Diantara xylem dan floem terdapat cambium. Adanya cambium dapat membuat tumbuhan
dikotil mengalami pertumbuhan
sekunder. Batang monokotil tidak mengalami pertumbuhan sekunder karena tidak
memiliki cambium. Floem dan xylem yang tidak teratur dan tersebar. Namun, kedua
jenis batang ini memiliki epidermis korteks dan stele.
Akar tumbuhan monokotil, xylem dan
floem tersusun rapi dengan pola tertentu. Pada akar monokotil, xylem dan floem
berselang – seling membentuk lingkaran.
VII.
Kesimpulan
Struktur akar dan batang dan bentuk
jaringan memiliki perbedaan anatomi antara tumbuhan monokotil dan dikotil.
VIII.
DAFTAR PUSTAKA
Muslim, Choirul, Ph.D, Diah
Aryulina, Ph.D, Syalfinaf Manaf, M.S, Dr. Endang Widi Winarni, M.Pd. 2007.Biologi 2 SMA dan MA untuk kelas XI.
Esis Erlangga, Jakarta
http://www.edubio.info/2015/02/perbedaan-batang-dikotil-dan-monokotil.html?m=1
Subscribe to:
Posts (Atom)